Sang Juara

25 Jun 2008

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti lomba balap mobil mainan. Saat itu adalah babak final dan hanya tersisa 4 orang. Masing2 pesertawajib memamerkan setiap mobil mainannya dan harus buatan mereka sendiri. Salah satu dari 4 anak yang masuk final lomba itu adalah Mark. Mobil yang ia punya tidak terlalu istimewa dibanding lawannya, hanya terbuat dari kayu sederhana dan lampu kedip di atasnya. Namun demikian ia bangga dengan mobilnya itu karena merupakan buatannya sendiri.Tibalah saat yang dinantikan yaitu final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Namun sebelumnya, Mark meminta waku sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak komat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam dengan tangan yang tertangkup memanjatkan doa. Semenit kemudian, ia berkata “Ya, aku siap!” dengan hentakan yang kuat mereka mulai mendorong mobilnya kuat2. Semua mobil meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak sorai, bersemangat menjagokan mobilnya masing2. Tali finish pun telah terlambai. Dan Mark adalah pemenangnya. Semua senang begitu juga Mark. Dalam hatinya ia berucap “terima kasih”. Saat pembagian piala tiba. Sebelum piala diberikan kepada Mark,ketua panitiabertanya “Hay jagoan, kamu pasti berdoa kepada Tuhan agar kamu menang bukan??” Mark terdiam, lalu berucap “Bukan pak, bukan itu yang aku panjatkan. Aku hanya memohon kepada Tuhan supaya aku tak menangis jika aku kalah.” semua hadirin yang datang terdiam mendengar hal tersebut. Sesaat kemudian terdengar gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

 

Apa yang direnungkan??

 

Mark tidak memohon kepada Tuhannya untuk menang dalam setiap ujian. Mark tidak memohon kepada Tuhannya untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Mark juga tidak meminta kepada Tuhannya untuk mengabulkan semua harapannya. Tetapi ia berdoa agar ia diberi kekuatan saat menghadapi semua itu. Ia berdoa agar diberikan kemuliaan dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

 

Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa kepada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik atau menjadi pemenang dalam setiap perlombaan. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal bukankah yang kita butuhkan adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya dan panduan-Nya?

 

Kita sering kali terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Yakinlah bahwa Tuhan memberikan kita ujian yang berat bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah. Sesungguhnya, Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya yang saleh.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post